Minggu, 26 April 2020

26 April 2019 : While Staying at Home in Pandemic COVID 19


Alhamdulillah setelah kurang lebih 5,5 tahun sekolah di kedokteran akhirnya lulus juga dan officially dapet gelar depan nama. Dari dulu selalu punya dream hypocratic oath (sumpah dokter) yang mana bakal pake kebaya favorit, foto bareng ayah ibuk udah pake sneli dan name tag IDI. hmm but Allah is the best planner. Ternyata, sumdokku tahun 2020 ini kudu via online karena kita harus menghormati social/physical distancing saat Pandemi COVID 19.

Well, how's my feeling? sedih sih pasti iya tapi gimana lagi. Sederet planning A-Z post lulus UKMPPD pun kudu disimpan ke saku dulu alias ditunda dulu. Padahal pengen banget jalan-jalan ke jogja, kulineran, hunting foto, nonton prambanan jazz.Ternyata semua planning harus sirna. 
Sempet mikir nggak sih? Why this all can be happened , kok ya pas banget saat aku lulus jadi dokter umum. Lulus disambut pandemi :")) nggak ada juga sejarahnya sumpah dokter online pake zoom karena emang momen sumdok adalah momen sakral layaknya nikahan hehe. 

Terus sering nanya ke diri sendiri, kok bisa sih ada virus baru yang kecepatan transmisinya luar biasa, sampek bener-bener manusia kudu terpenjara. Again semua belum ada jawabannya. 
Beberapa hari yg lalu sempet marah, nangis, putus asa kenapa Allah kasih cobaan kita seberat ini. Saking marahnya sampek nangis udah masuk depression scale mild depression juga deh kayaknya. Dan Allah selalu punya jawabannya, tiba-tiba nemu aja video artis yang lagi hijrah dan ngobrol santai. Terus dia bilang...
 "Ini tuh momen dimana kita kudu kontemplasi, mengingat bahwa apa yg tidak kita syukuri sebelumnya ternyata hal yg paling harus disyukuri, misalnya berjabat tangan dengan kawan, silaturahmi, pergi ke pasar, bangun tidur tanpa ketakutan dan masih banyak lagi"
"Well, kita terlalu jauh dan cepat tenggelam dalam kesibukan kita sehari-hari, tanpa melihat bahwa banyak yg harus disyukuri, dengan adanya hujan, oksigen yg tak terbatas, tumbuhan indah di skitar, awan biru serta burung-burung kecil yang menyapa di pagi hari,... ternyata semua itu nikmat yg harus disyukuri". "Allah is the best planner , pasti Allah ingin umatnya berkontemplasi , melihat lebih deep lagi tentang kehidupan yg kita jalani, tentang kesombongan manusia yang ternyata collapse dengan mudahya melawan musuh yg tak kasat mata." 
"And all we can do is just be patient, sabar tidaklah berbatas, ujian yg sesungguhnya itu adalah kesabaran untuk sebuah ketidakpastian yg kita alami sekarang." Sebagai umat muslim, kita harus juga berikhtiar, menjaga diri agar tetap selalu sehat"... "Well, banyak yang bilang Ramadhan tahun ini is the worst ever in our life as human being, but lihat lagi... apakah benar kita menyematkan kata the worst one untuk Ramadhan tahun ini? Bukankan tidak ada yang berbeda? Ramadhan tetaplah bulan suci yang paling kita nantikan sepanjang tahun, tidak ada yg berubah hanya sedikit menjaga jarak dari keramaian untuk tetap tarawih di rumah, buka bersama keluarga.."

Well, itu beberapa cuplikannya, dan emang rasanya emosi dikuras habis di tahun ini. Mungkin ini cara Allah menjawab doaku beberapa tahun yg lalu karna gak pernah ramadhan di rumah bareng ayah ibuk , dan sekarang Allah menggantikan waktu yg kuminta dahulu.Bukankah Allah memang memberikanmu anugerah waktu yang lebih banyak dengan ayah ibu. Belum tentu tahun depan bisa ramadhan full di rumah , ramadhan tanpa tergesa dengan pasien yang silih berganti. Then , COVID 19 has changed our daily life. Kita kudu cuci tangan everytime after contact to some things. Memakai masker all the time, selalu memperhatikan sel hygiene. Jujur aku sendiri sebagai nakes yag sering ke RS aja dulu gak gitu2 amat sering pake masker misalnya but time changes... RS jadi the scariest place untuk saat ini. Ya Allah, i know you are the best planner , i know that behind this pandemic there must be a blessing. Ya Allah, luaskanlah dan lapangkanlah kesabaran kami dalam menghadari ujian ini. Ya Allah berilah kami ampunan atas segala yg telah kita lakukan, terlalu sombong atas dunia yg fana ini, terlalu angkuh dan merasa menjadi tuan pada bumi yang dipijak padahal nyatanya manusia hanyalah sebagai tamu. Ya Allah semoga engkau selalu melindungiku, keluargaku, rekan sejawat dan semua rakyat Indonesia. Semoga Ya Allah, kita diberikan kekuatan untuk melawan wabah ini. Mungkin memang semua terasa tidak atau belum pasti , tapi yakinlah setiap labirin pasti memiliki ujungnya masing-masing. Bismillahirrohmanirrohim, we can beat this virus together, aamin