Minggu, 28 Oktober 2018

Sebuah Kerisauan akan Pertemanan

terkadang lingkungan membuat kita harus berkompromi dengan keadaan.
terlalu cepat menyimpulkan dibilang tak sabaran.
lalu apa benar jika yang salah , dipertahankan bukannya diingatkan (?)
lagi-lagi aku tak suka berkompromi dengan keadaan.
kalau kau bilang aku terlalu banyak pikiran, lalu apa jadinya denganmu yang tak bisa diandalkan (?)
sekali lagi, apakah benar aku memang harus berkompromi dengan keadaan(?)
coba jelaskan dimana letak kesalahan.

Rabu, 17 Oktober 2018

Membiru


Bertanya tentang luka diri sendiri, apakah hari ini sudah baik-baik saja? atau sebaliknya? 
Mungkin aku harus berkata : Sudah, tak perlu terburu.. toh semua akan ada waktunya tak lagi membiru.
Kukira hari-hari yang lalu akan membuatku tak lagi menunggu, ah apadaya... aku selalu terburu menyimpulkan sesuatu. Bukan, ternyata bukan . Lagi-lagi aku terbawa angan yang kukira akan melabuh. Sudah kusematkan tanda rencana kapalku ke tujuan semu , ternyata belum saatnya bersandar disitu. 
Lalu seperti apa lukaku? Lebih membiru?
-

(a random thoughts, di tengah bosannya menyusun status ujian stase 4/13 ku)

Bromo di suatu pagi



Hei lihat, aku kembali ke tempat ini. Bagiku mengunjungimu lagi bukan suatu hal yg membosankan. Kudengar dirimu sedang terluka dan berduka. Saat sebagian orang berkata "Buat apa kembali , jika yang kau temui bukan dia lagi." aku tetap ingin melihatmu sekali lagi. Bukan untuk mencaci, cuma ingin mengamati seberapa dalam lukamu kemarin. Bukankah pagi selalu membersamai dan tak akan menghianati? Semoga pagi mu pelan-pelan akan mengobati,.. pelan-pelan menghangatkan hatimu yang mungkin sedang dilanda kacau. Aku cuma ingin mengunjungimu sekali lagi, sungguh bukan untuk mengusik harimu. 
Kelak semoga ada yang mampu membasuh lukamu dan tumbuh bersamamu. 
Kelak aku tetap disini, menjadi seorang teman yang berterima kasih karena denganmu aku mengerti bahwa menemani bukan selalu akan membersamai.
.
.
.
Bromo, di suatu pagi.
Kelak suatu hari, di suatu tempat
Semoga tanya "Apa kabar?" bukan lagi salah alamat

Selasa, 16 Oktober 2018

3/13 Obstetri dan Ginekologi

Hari yang panjang dengan jadwal jaga ding dong (jaga 24 jam-12 jam-24 jam-dst) sungguh melelahkan. Saat mata sudah terasa berat dan langkah yang semakin melambat , kita dituntut tetap prima melayani ibu-ibu hamil mulai dari administrasi, sampai semua tindakan pasien. Stase yang berat (?) secara fisik kukatakan YA tapi secara ilmu dan skill stase ini telah membuatku jatuh hati.
Kejadian konyol, mengharukan, dan pencipta amarah semua menjadi satu dalam wadah bernama pengalaman tak terlupakan. 
Alhamdulillah aku sudah melewatinya tepatna 5 minggu yg lalu. Di stase ketiga per tiga belasku ini , awalnya aku merasa 'takut' karena banyak cerita yang menyebutkan stase ini sangat menyeramkan dalam artian banyak kerjaan dan banyak cacian ehehe. Dalam dunia per koasan memang sih semua tubuh kita kudu tahan banting nggak terkecuali kuping yang kudu siap untuk dicaci. Awalnya memang berat karena jadwal jagaku yang benar-benar berat, mungkin tidak jadi berat bila kegiatanku jaga cuma ongkang-ongkang aja tapi ini sungguh berbeda. Aku merangkap administrator, keluarga, dokter muda, perawat, bidan... semuanya. Tapi sungguh, semuanya berfaedah meskipun capeknya itu maksimal.

Pernah suatu hari seorang pasien G1P0000Ab000 dengan UK 37-38 mggu +PEB usia 18 tahun. Pasien datang dengan biasa-biasa saja, dan saat kutanya kenapa sudah menikah jawabnya "dijodohkan mbak, mau gimana lagi?" "terus nggak mau lanjut sekolah?" "Nggak mbak, orang tua nyruh nikah aja" katanya sih begitu. Awalnya di ruangan VK bersalin dia bukan termasuk pasien yang minta ini itu.... dan keadaan berubah 180 derajat saat induksi persalinan diberikan karena memang pasien ada PEB jadi mau gamau harus dikasi obat "perangsang". Dan.... jadilah VK rame, si ibu itu tadi teriak-teriak dan marah-marah ke kita para DM jaga. Kita yang udah kebal sama cacian macem ibu G1 langsung mendekat dan belum bilang sepatah kata pun tanganku langsung dipegang dan diarahkan ke pinggangnya
"MBAKKKK AYO MBAKKKK PIJITIN SEKARANG SAKITTT INI MBAKKKK"

Awalnya karna kasian aku iyain, "iya buk saya pijitin bentar aja ya saya banyak kerjaan"
nggak tau gimana ceritanya, saat aku lepas tanganku biar dia gak keenakan aku pijitin, dia langsung sigap tarik tanganku lagi "MBAAAKKK JANGAN BERHENTI, TERUS PIJITIN" sambil ngomel-ngomel nangis-nangis ...

FInally dia keenakan karena dipijit, alhasil temen temen aku pada "EDUKASI" agak "keras" ke ibunya biar nggak terlalu manja.... 
dia tetep kekeuh pengen dipijit dan maksa buat SC aja. Sedih gitu liatnya, disaat ibu lain pengen lahiran normal, eeehhh si dedek 18 tahun yg kupanggil IBU ini nyerah gitu aja.
tapi karena edukasi keras kita akhirnya dia kuat ngeden dan tetep aja abis lahiran si dedek 18 tahun ini nangis-nangis pengen ketemu ibunya. Jadi peraturan di VK itu emang melarang keluarga buat ketemu si bumil beberapa jam aja karena emang VK adalah ruang tindakan , tapi setelah lahiran si bumil ini akan langsung dipindah ruangan lain dan bisa ditungguin full time sama keluarganya. Nah si dedek 18 tahun ini nangis-nangis terus diliatin anaknya yg baru lahir . Malu sih , masa bayinya nggak nangis, si ibunya nangis nangis coba :(. 

Itu cuma sepenggal kisah, mash buanyakkkk lagi cerita yang bener-bener bekas di memori....
Di stase 3/13 ku ini, ditemani para konsulen yang super baik, perhatian dan low profile bikin aku betah dan kuat menjalani hari-hari di obsgyn. Nggak cuma itu sih, mbak bidan, perawat dan temen-temen sejawat yang super kocak bikin hari-hari nggak terasa capek. Pagi tanpa gosip bukan stase obsgyn namanya. 
Semoga setelah stase 3/13 ku ini banyak ilmu yang nantinya bermanfaat saat aku jadi dokter di faskes pertama nanti.